Kamis, 24 Agustus 2017


Harry Potter And The Half-blood Prince


Harry Potter and the Half-Blood Prince' bukan sekedar babak baru kehidupan Harry (Daniel Radcliffe) dan sahabat-sahabatnya. Kisah kocak, asmara dan patah hati mewarnai masa remaja Harry bersama dua karibnya, Ron Weasley (Rupert Grin) dan Hermione Granger (Emma Watson).

Tapi, cerita besar Harry Potter seri ke enam ini adalah ancaman kembalinya Lord Voldemort, si raja sihir ilmu hitam. Film ke enam dari tujuh seri Harry Potter ini pun dianggap sebagai yang terkelam.

Voldemort yang selalu jadi momok para penyihir keluar dari persembunyiannya. Death Eater, pasukan Voldemort, merayakan kembalinya raja mereka dengan memorak-morandakan kota. Tiga bayangan hitam melesat membelah London, menyisakan kehancuran.

Profesor Dumbledore (Michael Gambon), kepala sekolah Hogwarts, mengendus ancaman tersebut. Bersama Harry, Dumbledore menemui Horace Slughorn (Jim Broadbent). Slughorn adalah pensiunan Profesor Ramuan yang keluar dari Hogwarts. Istirahat dari Hogwarts, Slughorn terus masih menyimpan kenangan para murid terbaiknya, termasuk Tom Riddle (Voldermort), yang sejak awal menunjukkan ketertarikan besar terhadap Ilmu Hitam.


Kunci mengalahkan sihir jahat Voldemort terletak pada sejarah hidup Tom Riddle yang bertransformasi menjadi Dark Lord. Oleh sebab itu, Profesor Dumbledore mengumpulkan semua ingatan tentang eks muridnya yang cerdas, tapi berbahaya itu. Salah satu ingatan menguak pembicaraan rahasia antara Tom dengan Profesor Slughorn.

"Itulah kunci kekuatan Voldemort. Kita harus cari tahu itu," kata Dumbledore kepada Harry.

Alkisah, di dalam kelas ramuan Profesor Slughorn, Harry menemukan sebuah buku, bertuliskan, 'Milik Pangeran Berdarah Campuran'. Berkat buku tersebut, Harry mendapat bocoran resep ramuan terampuh, dan menjadi bintang di kelas Profesor Slughorn. Itu memang bagian rencana Dumbledore, agar Harry bisa mendekati Slughorn untuk mengungkap kisah Tom Riddle (nama Voldemort saat masih sekolah).

Selanjutnya, misi utama Harry adalah mencari Horcux, pecahan jiwa Voldemort, dan menghancurkannya. Sepanjang adegan, Draco Malfoy (Tom Felton), musuh bebuyutan Harry, menunjukkan sisi gelapnya. Malfoy, yang terobsesi menjadi 'Yang Terpilih', menjalankan misi beresiko dari Lord Voldermord. Malfoy dilindungi oleh Profesor Severus Snape (Alan Rickman) yang terikat sumpah dengan Narcissa Malfoy, ibu Draco, untuk melindungi putranya.

Di tengah kelamnya jalan cerita Harry Potter, cerita cinta Harry, Ron dengan Hermione, jadi penyeimbang. Persahabatan Harry dengan Ginny Weasley (Bonnie Wright) tumbuh semakin dalam. Demikian pula halnya, cinta antara si konyol Ron dengan Hermione. Emma Watson, dalam catatan produksi, menulis, "Buatku, film ini seperti komedi romantis, dari pada (film HP) yang lainnya. Kita menyaksikan bagaimana mereka menghadapi cinta pertama, rasa cemburu, ketidaknyamanan, dan semua hal terkait dengan pacaran."

David Yates kembali menggarap seri Harry Potter, setelah sebelumnya, sukses dengan film laris musim panas, Harry Potter and the Order of the Phoenix. David Heyman, produser semua seri film yang diangkat dari novel laris J.K Rowling, Harry Potter, berkolaborasi dengan David Baron (produser The Killing Fields, Hellbound, Hamlet). Sementara, penulisan naskah masih dikerjakan oleh Steve Kloves, yang menggarap skenario empat film pertama HP.

Rabu, 23 Agustus 2017

                                                      BERAWAL DARI BENCI


Sahabat selalu ada disaat kita membutuhkannya, menemani kita disaat kita kesepian, ikut tersenyum disaat kita bahagia, bahkan rela mengalah padahal hati kecilnya menangis…”
***
Bel istirahat akan berakhir berapa menit lagi. Nadia harus segera membawa buku tugas teman-temannya ke ruang guru sebelum bel berbunyi. Jabatan wakil ketua kelas membuatnya sibuk seperti ini. Gubrak…. Buku-buku yang dibawa Nadia jatuh semua. Orang yang menabrak entah lari kemana. Jangankan menolongnya, meminta maaf pun tidak.
“Sial! Lari nggak pakek mata apa ya...” gerutu Nadia. Dengan wajah masam ia mulai jongkok untuk merapikan buku-buku yang terjatuh. Belum selesai Nadia merapikan terdengar langkah kaki yang datang menghampirinya.

“Kasian banget. Bukunya jatuh semua ya?” cemooh seorang cowok dengan senyum sinis. Sejenak Nadia berhenti merapikan buku-buku, ia mencoba melihat orang yang berani mencemoohnya. Ternyata dia lagi. Cowok berpostur tinggi dengan rambut yang selalu berantakan. Sumpah! Nadia benci banget sama cowok ini. Seumur hidup Nadia nggak bakal bersikap baik sama cowok yang ada di depannya ini. Lalu Nadia mulai melanjutkan merapikan buku tanpa menjawab pertanyaan cowok tersebut.

Cowok tinggi itu sepintas mengernyitkan alisnya. Dan kembali ia tercenung karena cewek di depannya tidak menanggapi. Biasanya kalau Nadia terpancing dengan omongannya, perang mulut pun akan terjadi dan takkan selesai sebelum seseorang datang melerai.

Teeeett… Bel tanda berakhirnya jam istirahat terdengar nyaring
“Maksud hati pengen bantu temen gue yang jelek ini. Tapi apa daya udah keburu bel. Jadi sori nggak bisa bantu.” ucap cowok tersebut sambil menekan kata jelek di pertengahan kalimat.
Cowok tersebut masih menunggu reaksi cewek yang ada di depannya. Tapi yang ditunggu tidak membalas dengan cemoohan atau pun ejekan.

“Lo berubah.” gumam cowok tersebut lalu berbalik bersiap masuk ke kelasnya. Begitu cowok itu membalikkan badannya, Nadia yang sudah selesai membereskankan buku mulai memasang ancang-ancang. Dengan semangat 45 Nadia mulai mengayunkan kaki kanannya kearah kaki kiri cowok tersebut dengan keras.
“Aduuuuhh” pekik cowok tersebut sambil menggerang kesakitan.
“Makan tuh sakit!!” ejek Nadia sambil berlari membawa buku-buku yang tadi sempat berserakan. Bisa dibayangkan gimana sakitnya tuh kaki. Secara Nadia pakai kekuatan yang super duper keras. Senyum kemenangan menghiasi di wajah cewek tinggi berambut ikal tersebut.
***
“Nadia….”
Nadia menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ternyata dari kejauhan Nesya teman baiknya sejak SMP sedang berlari kearahnya. Dengan santai Nadia membalikkan badannya berjalan mencari motor matic kesayangannya. Ia sendiri lupa dimana menaruh motornya. Nadia memang paling payah sama yang namanya mengingat sesuatu. Masih celingak-celinguk mencari motor, Nesya malah menjitak kepalanya dari belakang.
“Woe non, nggak denger teriakan gue ya? Temen macam apa yang nggak nyaut sapaan temennya sendiri.” ucap Amel dengan bibir monyong. Ciri khas sahabatnya tersebut kalo lagi ngambek.
“Sori deh Sya. Gue lagi bad mood, pengen cepet pulang.”

“Bad mood? Jelas-jelas loe tadi bikin gempar satu kelas. Udah nendang kaki cowok sampai tuh cowok permisi pulang, enggak minta maaf lagi.” jelas Nesya panjang lebar.
“Hah? Sampe segitunya? Kan gue cuma nendang kakinya, masak segitu parahnya?” Nadia benar-benar nggak nyangka. Masa sih keras banget? Tuh cowok ternyata bener-bener lembek, pikirnya dalam hati.
“Nendang sih nendang tapi lo pakek tendangan super duper. Kasian Reno lho.”
“Enak aja. Orang dia yang mulai duluan.” bantah Nadia membela diri.
Sejenak Nesya terdiam, lalu berlahan bibirnya tersenyum tipis.


“Kenapa sih kalian berdua selalu berantem? Masalahnya masih yang itu? Itu kan SMP dulu banget. ” ujar Nesya polos, tanpa bermaksud mengingatkan kejadian yang lalu. “Lagi pula gue udah bisa nerima kalau Reno nggak suka sama gue.”
“Tau ah gelap!”
***
Bel pulang berbunyi nyaring bertanda jam pelajaran telah usai. Cuaca yang sedemikian panas

Identitas Buku
Judul Buku : Perempuan Berkalung Sorban
Nama pengarang : Abidah El khalieqy
Penerbit : Arti Bumi Intaran
Kota Terbit : Yogyakarta
Tahun Terbit : 2009
Jumlah Halaman : viii + 320 halaman
Ukuran : 13 X 19 cm
ISBN : 978-979-15836-4-1
Sinopsis
Seorang gadis kecil bernama Anisa, hidup di lingkungan pesantren sebagai putri seorang kiyai. Anisa adalah bocah yang lincah dan cerdas, namun posisinya sebagai perempuan menjadikannya tidak bebas berkreasi. Anisa selalu merasa keluarganya dan adat sangat tidak adil. Ia dilarang berkuda, berbicara saat makan, berpendapat, dan bergurau bersama, sementara kedua kakak laki-lakinya diizinkan. Ia juga harus rajin belajar dan bangun pagi, sementara kakaknya boleh bermalas-malasan sesuka hati, semua itu hanya karena ia seorang perempuan. Anisa tidak pernah tinggal diam atas prlakuan itu, ia selalu berontak. Anisa mempunyai seorang saudara sekaligus sebagai satu-satunya sahabat yang selalu memahaminya, Lek Khudori, begitu panggil Anisa. Namun, kedekatan mereka harus terenggang ketika Khudori harus melanjutkan studinya ke Kairo, dan hanya suratlah penyambung bisu hubungan keduanya.
Setelah lulus sekolah dasar, Anisa dipaksa menikah dengan putra seorang kiyai, dialah Syamsudin. Syamsudin selalu melakukan kekerasan dalam rumah tangga, selalu membentak, memukul, memaksa, bahkan dalam berhubungan suami-istri Syamssudin sering meminta yang tidak wajar. Suatu ketika, Anisa didatangi seorang janda yang tengah hamil tua, dia mengaku bahwa anak tersebut adalah buah hatinya bersama Syamsudin. Kemudian Anisa harus bersedia dipoligami. Merasa senasib mendapat perlakuan kurang baik dari Syamsudin, Anisa dan mbak Kalsum, si istri muda, sepakat untuk saling bantu. Mbak Kalsum juga sering belajar mengaji pada Anisa.
Di sisi lain, kembalinya Khudori dari Kairo mengembalikan harapan Anisa untuk memerdekakan diri pula. Dengan ditemani Khudori, Anisa berani menceritakan semua kejadian yang ia alami selama berumah tangga dengan Syamsudin. Kemudian, keluarga Anisa melakukan musyawarah dengan keluarga Syamsudin untuk perceraian mereka. Perceraian itupun terjadi, Anisa merasa sangat lega. Namun, Anisa dan Khudori kembali resah ketika cinta mereka yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu itu tidak mendapat restu dari orang tua Anisa. Mereka kemudian melanjutkan hidup masing-masing sambil menunggu masa idah Anisa dan restu dari orang tuanya.
Anisa melanjutkan studinya, ia kuliah di Jogjakarta. Di sana ia mengikuti organisasi yang mengurusi hak-hak perempuan. Ia juga aktif dalam duni tulis-menulis. Di tengah-tengah kesibukan yang ia nikmati, Khudori kembali datang dan meminangnya. Kali ini Khudori sudah mendapat restu dari orang tua Nisa. Mereka pun menikah. Kehidupan rumah tangga mereka sangat damai. Khudori sering membantu Anisa menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Walaupun kadang terjadi masalah, keduanya bisa mengatasi itu dengan baik. Kebahagiaan mereka bertambah lengkap setelah cukup lama menunggu dengan sabar untuk mendaptkan momongan. Anisa melahirkan seorang bayi yang kemudian diberi nama Mahbub yang berarti cinta kasih.
Suatu hari Anisa dan khudori menghadiri sebuah undangan pernikahan teman lamanya di kampung kelahirannya. Di situ, mereka bertemu kembali dengan syamsudin. Dari matanya, nampak kebencian dan keirian Syamsudin pada Khudori. Kemudian Syamsudin meninggalkan tempat itu. Tak jauh dari pertemuan itu, Anisa mendapat kabar bahwa Khudori mengalami kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan lagi. Tuduhan Anisa selalu mengarah pada satu nama: Syamsudin. Namun, bagaimanapun juga ia tak punya bukti yang nyata. Akhirnya ia harus menjalani hidup ini tanpa Khudori dan membesarkan Mahbub sendirian.